Sabtu, 27 Oktober 2012

Peranan Musik Dayak dalam Kegiatan Upacara Balian Sebagai Salah Satu upacara Ritual Keagamaan Agama Hindu Kaharingan

BAB I

PENDAHULUAN




A.      Latar Belakang
Wilayah pemukimannya meliputi seluruh pulau Kalimantan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Disamping itu mereka mendiami Kalimantan Utara yang kini menjadi wilayah federasi Malaysia dan Kesultanan Brunai Darusalam. Sub suku Dayak yang mendiami daerah itu adalah Dayak Murut yang mendiami daerah Malaysia Timur, bagian Sabah dan bagian utara Kalimantan Timur.
Nama Dayak adalah nama bagi penduduk lain yang tidak beragama Islam.. Nama ini terkadang digunakan untuk membedakan suku yang hidup di daerah pedalaman dengan suku Melayu yang mendiami daerah pesisir. Disamping itu ada pula orang Dayak yang beragama Islam, namun mereka tetap disebut Melayu, sehingga nama Dayak sering digunakan untuk membedakan suku asli yang masih memeluk agama asli (Kaharingan), Protestan dan Katholik, dengan masyarakat yang memeluk agama Islam.
Suku Dayak termasuk dalam rumpun bangsa Austronesia yang berimigrasi ke Asia Tenggara antara tahun 2500 SM-1500 SM. Migrasi tersebut dimulai dari beberapa daerah disekitar Yunnan, yaitu daerah Cina Selatan, sungai Yang Tse Kiang, Mekhong dan Menan. Mereka menuju Indonesia melalui Malaysia Barat kemudian menyebar ke Sumatera, Jawa, Bali dan sebagian ke Kalimantan yang termasuk dalam ras Mongoloid atau mempunyai kecocokan dengan ciri-ciri ras tersebut.
Migrasi suku Dayak berlangsung dalam kurun waktu yang panjang dan dibedakan menjadi Proto-Melayu (Melayu tua) dan Deutro-Melayu (Melayu muda) untuk menunjukkan gelombang perpindahan mereka. Gelombang pertama berlangsung sekitar tahun 300 SM atau zaman Neolithikum. Gelombang kedua setelah berbudaya logam yang kemudian dikenal dengan suku Dayak.. Dari sekian banyak suku yang ada di Kalimantan, salah satunya adalah sub suku Dayak Kanayatn yang kaya dengan kesenian tradisi, terutama seni musik.
Masyarakat Dayak Ngaju memiliki berbagai tatanan kehidupan atau kebiasaan adat istiadat yang dijalankan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat merupakan wujud ideal dari kebudayaan yang dipegang teguh dalam kehidupan sehari-hari. Ia merupakan sistem kebudayaan yang di dalamnya terdapat sistem norma dan sistem hukum yang menjadi pedoman hidup masyarakatnya. Mereka menganggap sistem budaya yang mereka miliki mempunyai nilai tinggi, berharga, bermakna, penting untuk dihayati dan dijalankan dalam kehidupan. Masyarakat Dayak juga memiliki konsep ketuhanan, kearifan mengelola hutan dengan cara tradisional, dan kesenian sebagai hasil dari penuangan rasa estetis religius. Semua itu dianggap sebagai warisan berharga yang harus dipertahankan dan diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.
Musik Dayak Ngaju merupakan bagian penting sebuah upacara. Ia tidak hanya mempunyai peranan dalam kehidupan, tetapi mengandung nilai-nilai religius masyarakat sesuai dengan adat dan kepercayaan yang dianut masyarakat Dayak Ngaju. Arti penting musik bukan hanya terbatas pada pemenuhan kepuasan estetis (hiburan) dan penggambaran budaya, namun dipercaya mempunyai fungsi, simbol, dan nilai budaya sesuai dengan posisinya sebagai wadah kreativitas dan intelektualitas masyarakat. Hal ini karena musik mencakup pengertian proses pengintegrasian unsur-unsur tradisional. Artinya unsur-unsur tradisi dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju digambarkan dalam musik yang mereka miliki dan dianggap mengandung simbol tertentu sebagai refleksi kehidupan yang mereka jalani. Ia merupakan pengungkapan nilai estetis dan ekspresi emosional sesuai dengan lingkup budayanya.



B.       Rumusan Masalah
Yang jadi permasalahan dalam makalah ini adalah :
-          Apakah pengertian seni musik ?
-          Apakah peran musik dalam agama Hindu ?
-          Bagaimanakah Peranan Musik Dayak dalam Kegiatan Upacara Balian Sebagai Salah Satu upacara Ritual Keagamaan Agama Hindu Kaharingan?

C.      Tujuan Penulisan
Dalam setiap penulisan suatu makalah ataupun karya tulis lainnya pastilah memiliki suatu tujuan yang hendak dicapai. Maka dari itu tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui peranan seni musik pada acara balian sebagai salah satu acara ritual keagamaan bagi umat Hindu Kaharingan.

D.      Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode kepustakaan yang mana sumber-sumber dari makalah ini didapat dari buku-buku yang dijadikan referensi yang kemudian dianalisis dan dijadikan data.













BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Seni Musik
1.    Pengertian Seni
Kata "seni" adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kata seni berasal dari kata "sani" yang artinya "Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa". Dalam bahasa Inggris dengan istilah "ART" (artivisial) yang artinya adalah barang/atau karya dari sebuah kegiatan. Konsep seni terus berkembang sejalan dengan berkembangnya kebudayaan dan kehidupan masyarakat yang dinamis.
Beberapa pendapat tentang pengertian seni:
a.         Ensiklopedia Indonesia : Seni adalah penciptaan benda atau segala hal yang karena kendahan bentuknya, orang senang melihat dan mendengar
b.        Aristoteles : seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu,
c.         Ki Hajar Dewantara : seni adalah indah, menurutnya seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya,
d.        Akhdiat K. Mihardja : seni adalah kegiatan manusia yang merefleksikan kenyataan dalam sesuatu karya, yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani sipenerimanya.
e.         Erich Kahler : seni adalah suatu kegiatan manusia yang menjelajahi, menciptakan realitas itu dengan symbol atau kiasan tentang keutuhan "dunia kecil" yang mencerminkan "dunia besar".

Terdapat 5 ciri yang merupakan sifat dasar seni (The Liang Gie, 1976) yang meliputi :
a.         Sifat kreatif dari seni. Seni merupakan suatu rangkaian kegiatan manusia yang selalu mencipta karya baru.
b.        Sifat individualitas dari seni. Karya seni yang diciptakan oleh seorang seniman merupakan karya yang berciri personal, Subyektif dan individual.
c.         Nilai ekspresi atau perasaan. Dalam mengapresiasi dan menilai suatu karya seni harus memakai kriteria atau ukuran perasaan estetis. Seniman mengekspresikan perasaan estetisnya ke dalam karya seninya lalu penikmat seni (apresiator) menghayati, memahami dan mengapresiasi karya tersebut dengan perasaannya.
d.        Keabadian sebab seni dapat hidup sepanjang masa. Konsep karya seni yang dihasilkan oleh seorang seniman dan diapresiasi oleh masyarakat tidak dapat ditarik kembali atau terhapuskan oleh waktu.
e.         Semesta atau universal sebab seni berkembang di seluruh dunia dan di sepanjang waktu. Seni tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Sejak jaman pra sejarah hingga jaman modern ini orang terus membuat karya seni dengan beragam fungsi dan wujudnya sesuai dengan perkembangan masyarakatnya.

Menurut The Liang Gie jenis nilai yang melekat pada seni mencakup:
1)     nilai keindahan,
2)     nilai pengetahuan,
3)     nilai kehidupan.
Nilai keindahan dapat pula disebut nilai estetis, merupakan salah satu persoalan estetis yang menurut cakupan pengertiannya dapat dibedakan menurut luasnya pengertian, yakni:
a)        Keindahan dalam arti luas (keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual),
b)        keindahan dalam arti estetis murni,
c)        keindahaan dalam arti estetis murni,
d)       keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan.
2.    Pengertian Musik
Musik adalah salah satu media ungkapan kesenian, musik mencerminkan kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di dalam musik terkandung nilai dan norma-norma yang menjadi bagian dari proses enkulturasi budaya, baik dalam bentuk formal maupun informal. Musik itu sendiri memiliki bentuk yang khas, baik dari sudut struktual maupun jenisnya dalam kebudayaan. Demikian juga yang terjadi pada musik dalam kebudayaan masyarakat melayu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 602)
Musik adalah: ilmu atau seni menyusun nada atau suara diutarakan, kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu)
Sehingga Seni musik adalah cetusan ekspresi perasaan atau pikiran yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bunyi. Bisa dikatakan, bunyi (suara) adalah elemen musik paling dasar. Suara musik yang baik adalah hasil interaksi dari tiga elemen, yaitu: irama, melodi, dan harmoni. Irama adalah pengaturan suara dalam suatu waktu, panjang, pendek dan temponya, dan ini memberikan karakter tersendiri pada setiap musik. Kombinasi beberapa tinggi nada dan irama akan menghasilkan melodi tertentu. Selanjutnya, kombinasi yang baik antara irama dan melodi melahirkan bunyi yang harmoni.
Musik termasuk seni manusia yang paling tua. Bahkan bisa dikatakan, tidak ada sejarah peradaban manusia dilalui tanpa musik, termasuk sejarah peradaban Melayu. Dalam masyarakat Melayu, seni musik ini terbagi menjadi musik vokal, instrument dan gabungan keduanya. Dalam musik gabungan, suara alat musik berfungsi sebagai pengiring suara vokal atau tarian. Alat-alat musik yang berkembang di kalangan masyarakat dayak ngaju di antaranya: kecapi, rebab, gendang, kangkanung dan gendang. Alat-alat musik di atas menghasilkan irama dan melodi tersendiri yang berbeda dengan alat musik lainnya
Ada ajaran agama tertentu yang meyakini bahwa kesenian seperti musik, nyanyian, tari-tarian, lukisan, ukiran, dan sebagainya adalah berasal dari setan. Sehingga para penganutnya tidak dapat menghargai lagi kesenian dan kebudayaan warisan nenek moyang sebelum agama tersebut diajarkan dan dianut oleh para keturunannya. Sangat mudah bagi mereka membuang segala jenis kesenian yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama barunya, tanpa memikirkan betapa pentingnya melestarikan budaya leluhur yang begitu indah. Berbeda dengan agama-agama ini, dalam Hindu kesenian dan budaya tak dapat dipisahkan dari hidup keagamaan. Khususnya di India Selatan, tempat kebudayaan Veda masih bertahan dengan keaslian bentuknya selama ribuan tahun, seni budaya mendapat tempatnya yang sangat terhormat.
Bagi umat Hindu dari India Selatan dan terutama bagi para Vaishnava sebagaimana yang kami ketahui, seni budaya salah satunya musik, adalah bagian yang sangat penting dalam kuil-kuil kita. Dia membawa pemuja menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Musik-musik kuil begitu manis bagi telinga dan begitu menyejukkan hati. Agama-sastra atau Tantra-sastra merumuskan berbagai kidung-kidung pujian Veda yang berbeda-beda untuk dinyanyikan selama melaksanakan berbagai ritual pemujaan di kuil. Lagu-lagu Veda diatur dalam suatu pola khusus yang disebut Devapani. Veda Sama Ganam (Sama Veda) adalah naskah musikal yang menjadi asal muasal semua jenis musik klasik India. Pengidungan Sama Ganam merupakan bagian yang esensial dari pemujaan sehari-hari di kuil-kuil. Alat-alat musik yang berjenis-jenis, dipelihara dalam kuil adalah untuk mengiringi lagu-lagu suci ini. Ketika Suprabhatam pada pagi hari, Yang Mahakuasa dibangunkan dengan irama musik dan setelah menghias Citra Suci-Nya dengan berbagai busana dan bunga-bungaan, mantra Veda tertentu yang disebut Mantra-pushpam dinyanyikan oleh sekelompok pendeta. Setelah itu Nadaswaram dan Tavil, dua alat musik yang sangat khas dari India Selatan, akan dimainkan untuk menghibur Tuhan. Biasanya tidak ada ritual apapun yang dilaksanakan tanpa iringan musik dan lagu-lagu dari Veda. Pemujaan akan dilakukan empat kali dalam sehari dan tiap kalinya selalu diiringi dengan musik. Pada saat upacara Abhisekam, upanisad-upanisad akan didaraskan disertai alunan merdu berbagai alat musik seperti nadaswaram dan sebagainya. Ketika Arca dibawa berpawai keluar kuil juga diiringi berbagai jenis tetabuhan. Pada saat pemujaan terakhir pada malam hari (Ekantha Seva), Yang Mahakuasa juga dibuai alunan suara musik yang menyenyakkan.
Musik klasik India bersifat kebaktian dan mengandung semangat pengabdian kepada Tuhan. Sepanjang periode Veda sampai jaman musik klasik, telah berkembang ribuan pemusik yang menggubah dan menyanyikan berjuta lagu-lagu kebaktian rohani untuk memuliakan Tuhan. Setelah bangkitnya gerakan bhakti, semangat pengabdian orang-orang mulai berkobar-kobar dan lagu-lagu rohanipun menjadi sangat terkenal. Adalah pada abad ke-10 seorang pemusik suci dan filsuf yang agung bernama Sri Nathamuni tertarik dengan lagu-lagu dari Nammalvar yang pernah didengarnya tengah dinyanyikan sekelompok pemusik dari pedalaman India Selatan. Terilhami oleh musik dan irama yang begitu indah dari lagu-lagu yang sangat kuno ini, membuatnya lebih tertarik lagi untuk berusaha mengumpulkan karya-karya sebelas Alvar lainnya yang hidup dalam berbagai abad. Dia berhasil mendapatkan 4000 lagu semacam itu dan menyusunnya menjadi sebuah kitab yang bernama Divya Prabandham, Kitab Kumpulan yang Suci.
Sri Ramanuja, pelopor pembangkit dan penggerak bhakti-vedanta setelah memantapkan filsafat Visishta-advaitanya menemukan bahwa sesungguhnya kumpulan 4000 lagu 12 Alvar ini tiada lain adalah refleksi langsung dari pemikiran-pemikiran Veda yang mendalam dan lagu-lagu Nammalvar disebut sebagai Thiruvaymozhi, Lagu Suci Yang Mahakuasa, karena mereka merupakan intisari dari Sama Veda. Sri Ramanuja setelah memantapkan filsafat Visishta-advaita kemudian berkeliling India menyebarkan dan membangkitkan kembali gerakan bhakti. Beliau mengadakan reformasi di hampir semua kuil, terutama yang disebutkan sebagai 108 Divyadesam (106 ada di bumi) dalam karya-karya para Alvar. Dia juga menegaskan bahwa lagu-lagu Divya Prabandham yang ditulis dalam bahasa Tamil tidaklah lebih rendah nilainya dari Veda-mantra, oleh karena itu hendaknya dinyanyikan oleh sekelompok Prabandha Adhyapaka dalam setiap pemujaan harian dalam kuil-kuil terutama di India Selatan. Dengan demikian Divya Prabandham memperoleh kedudukannya sebagai Dravidavedam, Veda dari Negeri Selatan. Divya Prabandham sendiri kemudian menjadi inspirasi bagi para penyair dan penggubah lagu rohani selama berabad-abad setelahnya.
Pada Kaliyuga ini, dikatakan bahwa menyanyikan dan memuji kemuliaan nama suci Tuhan adalah sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai kesempurnaan. Tuhan Srinivasa (Venkateshvara), yang berstana di Bukit Suci Thirumala, tempat perziarahan paling terkenal bagi umat Hindu terutama yang berasal dari India Selatan, telah sejak lama menjadi pusat pemujian oleh para Alvar, Acarya, dan penyair-penyair suci. Bagian-bagian dari Nalayira Divya Prabandham yang mengandung lagu-lagu dari para Alvar setiap hari dinyanyikan di hadapan Beliau. Salah satu Alvar, yaitu Sri Kulasekharan dalam syair-syairnya mengungkapkan keinginannya untuk terus-menerus lahir kembali di bukit Thirumala. “Apapun wujudnya, entah menjadi apapun, dengan cara apapun! Entah itu sebagai ikan, atau semak belukar, atau kerikil, ataupun bebatuan!” Keinginan satu-satunya hanyalah agar dapat selalu berkumpul dengan Thirumala dan para Bhakta. Cintanya kepada Tuhan memuncak dan berkobar-kobar menjadi hasrat yang tak tertahankan. Tuhanpun mengabulkan permohonannya ini. Tangga berlapis lempengan emas yang berada di dalam Garbhagriha (Ruang Mahasuci) kuil Thirumala disebut Kulasekharapadi, Tangga Kulasekhara. Di sinilah Sang Alvar dikenang selama-lamanya.
Tamil Prabandham dan Tuhan Sri Srinivasa kemudian juga mengilhami Tallapaka Annamacarya dalam menyanyikan lagu-lagu gubahannya dalam bahasa Telugu dan Sanskrit. Dari sekitar 32000 lagu yang digubah olehnya, saat ini hanya tersisa 12000 saja. Lagu-lagu Kirtana seperti ‘Brahma Kadigina Padamu’ dan ‘Adivo Alladivo Shri harivasamu’ sangatlah terkenal bahkan sampai sekarang. Pengaruh kebaktian kepada Sri Srinivasa dapat pula dilacak pada ribuan lagu yang dinyanyikan oleh penyembah yang sangat terkenal, Sri Purandaradasa. Hanya beberapa ratus saja lagu-lagunya dalam bahasa Kannada yang sekarang tersisa. ‘Dasana Maadiko Ena’, ‘Nambide Ninna Paadava Venkataramana’, adalah beberapa dari lagunya yang sangat berharga. Sri Srinivasa juga membuat pemuja Sri Rama yang melegenda, Swami Thyagaraja, penulis lebih dari 4000 lagu, turut mencurahkan hatinya dalam bhakti yang tak terbatas kepada-Nya. ‘Tera Teeyagarada’, ‘Venkatesha!’, ‘Ninnu Sevampinu’, adalah sebagian dari karya-karya kebaktiannya yang termashyur bagi Tuhan dari Bukit Venkata.
Tuhan telah memperkaya seluruh segi pendekatan bhakti dengan perantaraan musik yang indah, jalan yang termudah untuk menuju kepada-Nya. Veda tidak mematikan kreativitas seni mereka yang meyakininya. Justru setiap orang digugah untuk berkarya, menyatakan kecintaannya kepada Tuhan dengan bentuk kesenian yang paling indah. Kebudayaan asli daerahpun juga dikembangkan, terbukti dari dinyanyikannya kidung-kidung berbahasa selain Sanskrit seperti Tamil, Telugu, Kannada, dan lain-lain bersama-sama dalam upacara di kuil. Bagi umat Hindu, Tuhan memberikan banyak cara dan kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan-Nya. Hal ini telah dibuktikan oleh para rohaniwan agung dari segala abad. Sungguh kita bersyukur atas anugerah-Nya yang istimewa ini, kini dan untuk selama-lamanya.
Seni sebagai media, memiliki kekuatan yang dapat memenuhi kebutuhan dan keperluan manusia. Pada jaman prasejarah kelompok orang dalam masyarakat tampak memuja dewa, roh, atau sesuatu yang khusus dengan memukul gendang dan bunyi-bunyian. Jadi seni musik mempunyai fungsi kerohanian untuk mendekatkan manusia dengan dewa yang dipuja. Kemudian fungsi ini diteruskan dalam kehidupan tari-tarian. Dengan demikian seni tari juga meneruskan fungsi spiritual itu (The Liang Gie, 2004: 47-48). Hal ini wajar, karena kehidupan seni juga diamanatkan dalam kitab suci Veda ( Titib. 1998 : 464 – 467).
Bagi kehidupan masyarakat Hindu, fungsi dimaksud tampak masih berlangsung. Hal ini terbukti dari adanya gamelan dan tari-tarian sakral yang hanya dimanfaatkan atau disuguhkan dalam suatu upacara tertentu, seperti tari sangiang, topeng sidakarya, dan yang lainnya, yang difungsikan sebagai kekuatan penolak kejahatan dalam rangka memohon keselamatan dan kesejahtraan lahir batin bagi umat dalam arti luas.
Sejalan dengan kebutuhan hidup dan kehidupan masyarakat, maka fungsi seni juga mengalami perkembangan, seperti fungsi pendidikan, yang dapat menjangkau beberapa hal seperti : keterampilan, dan berbagai kreatifitas lainnya. Yang tidak kalah pentingnya dari pada fungsi seni itu sendiri adalah fungsi komunikatif. Dengan demikian kesenian memiliki konteks yang beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan dan struktur sosial budaya masyarakat pendukunya. Hal ini wajar karena seni pada dasarnya mengandung berbagai nilai. Nilai utamanya adalah estetika, yakni mencipta sesuatu yang menawan bagi penerimanya.
Nilai lainnya adalah nilai pengetahuan dan informasi. Lebih lanjut dikatakan bahwa yang paling penting dalam seni adalah nilai hidup yang diungkapkan di dalamnya. Nilai-nilai ini berupa problematik yang biasanya dipandang secara filsafati, disadari atau tidak oleh senimannya. Nilai hidup ini menunjukkan tingkat kepahaman seniman terhadap kehidupan ini, juga menunjukkan luasnya pandangan seniman. Nilai-nilai seni yang digemari oleh kaum cendekiawan adalah nilai-nilai ini. Kesenian lalu dipandang sebagai suatu metode untuk mengungkapkan kepahaman terhadap suatu kehidupan. Kalau ilmuwan dan filosuf memahami hidup ini dengan disiplin nalarnya, maka seniman bukan hanya bekerja berdasakan nalar, melainkan dengan seluruh aspek dimensi rohani manusia, seperti menghayati hidup sehari-hari. Bedanya bahwa bagi ilmuwan penghayatan hidup sehari-hari berlangsung tanpa bentuk, sedangkan pada seniman penghayatan, dibingkai dalam bentuk intisari hakiki pemahamannya ( Sumardjo,2000:199-200).
Uraian di atas menggambarkan bahwa keutamaan seni bukan hanya dinilai dari segi keindahan saja, melainkan juga kemapuannya mengungkap sesuatu seperti nilai sejarah, agama dan sebagainya. Khususnya berkaitan dengan agama, tidak terkecuali termasuk agama Hindu, dalam rangka penyampaikan ajaran-ajarannya sering dilakukan melalui media seni. Bahkan bagi kebanyakan seniman dan masyarakat pada umumnya menganggap dan merasakan bahwa penyampaian ajaran agama terasa lebih efektif dan lebih meresap bila dilakukan melalui pemanfaatan media seni. Dikatakan demikian karena melalui media seni di samping dapat disampaikan ajaran agama sekaligus juga sebagai hiburan. Dengan demikian seni memiliki multi fungsi. Multi fungsi ini yang menyebabkan orang merasa lebih tertarik dan lebih cepat mengerti mempelajari agama memlaui media seni, baik itu seni pentas seperti: seni pertopengan; seni pedalangan, seni rupa dan sebagainya. Melalui kesenian ini banyak dapat disampaikan tentang ajaran agama dan filsafat kehidupan manusia.
Kemanunggalan agama dan seni sebagai potensi pembentukan budi pekerti, telah dijelaskan bahwa nilai agama meresap dan menjiwai seluruh aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan dalam berkesenian. Sebaliknya seni dapat dimanfaatkan sebagai media, baik untuk mendekatkan manusia dengan dewa yang dipuja maupun untuk menginformasikan dan mengkomunikasikan nilai-nilai agama kepada masyarakat. Ini bentuk kemanunggalan agama dan seni.
Realitanya tampak jelas ketika agama berbicara masalah unsur-unsur ritual, kehadiran seni dalam ritual agama tidak dapat dielakkan lagi, menjadi satu kesatuan yang akrab dan padu (Sumandiyo Hadi,2006:297). Dalam konteks ritual agama, khususnya dalam agama Hindu, tampak jelas bahwa polanya benar-benar alamiah. Kegiatan semacam ini dapat dilihat dalam pola-pola kepercayaan mitos dengan jenis-jenis ritus magis. Dalam hal ini seni diyakini mengandung kekuatan untuk dapat menghubungkan kehendak manusia dengan penguasa-Nya. atau untuk menyiasati perjalanan alam, dan mempengaruhi kekuatan lainya. Karena itu seni dimanfaatkan atau difungsikan sebagai media dalam kegiatan dimaksud, yang secara fungsional memiliki dimensi vertikal dan horisontal.
Secara vertical terkait antara hubungan munusia dengan Sang Pencipta atau Penguasa alam. Hal ini tampak jelas ketika seorang seniman ( penari) sering terjadi kontaks dengan Sang Pencipta dan terjadi trans (kerauhan). Sedangkan secara horizontal kaitannya, antara manusia dengan manusia, dalam hal ini seni berfungsi sebagai media informasi dan komunikasi untuk menyampaikan nilai-nilai ajaran agama, yang seakaligus berfungsi sebagai potensi pembentuk moral dan budi pekerti.
Hal ini jelas, karena seni sejatinya sebagai media informasi dan komunikasi, akan senantiasa mempublikasikan nilai-nila ajaran agama yang dikemas ke dalam nilai budaya agama Hindu yakni: siwam (kesucian), satyam (kebenaran), dan sundaram (keindahan) lewat potensi rasa dan intuisi, serta melalui potesi ini pula manusia /masyarakat dibawa dan diangkat ke dalam pengalaman-pengalaman intuitif dan moral yang lebih tinggi. Seni memberikan pengalaman-pengalaman transcendental yakni siraman rohani kepada manusia /masyarakat, yang bisa jadi pengalaman. Inilah moral yang digali dan diangkat dari bingkai agama Hindu kemudian disentuhkan kepada manusia /masyarakat melalui media seni, yang sesungguhnya semuanya itu merupakan sinergi antara agama Hindu dengan seni dalam rangka pembentukan budi pekerti manusia.
Kekuatan seni untuk mengangkat, menginformasikan dan mempublikasikan nilai agama dimaksud mencakup isi dari pada kerangka agama Hindu yakni: tattwa, susila dan upacara, dengan kemasan siwam, satyam, sundram. Pada prinsipnya semua seni memiliki kekuatan sebagai media infomasi dan potensi pembentukan budi pekrti seperti tersebut di atas, namun demikian dapat dipahami bahwa dari penggolongan seni yang ada, seni pertunjukan memiliki fungsi yang sangat dominan sebagai media, dan hampir semua jenis seni musik memilki kekuatan seperti itu. Peningkatan budi pekerti dimaksud teraplikasi dalam Tri Hita Karana, yakni dalam hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Hubungan antar manusia dengan Tuhan dapat meningkatkan rasa percaya yang lebih mendalam kehadapan
Beliau (Tuhan), sehingga tumbuh rasa hormat dan bakti kehadapan-Nya. Hubungan antar manusia dengan sesama menumbuhkan toleransi yang tinggi dengan segala etika baik dalam hal berpikir, berbicara maupun berbuat sesuatu. Hubungan antar manusia dengan alam lingkungan akan menumbuhkan rasa cinta terhadap alam lingkungan, sehingga manusia tidak berbuat sembarangan terhadap lingkungan, dan bahkan ingin memelihara lingkungan karena adanya rasa saling berkepentingan dan saling menguntungkan untuk kebutuhan hidup. Inilah wujud nyata sinergi agama Hindu dengan seni sebagai potensi pembentukan budi pekerti.
Agama Hindu senantiasa menerapkan ajaran-ajaran mulia yang benar-benar mendorong dan menuntun orang-orang untuk dapat berbuat yang lebih mulia. Dalam menyampaikan ajaran-ajarannya, seni merupakan salah satu media yang sangat efektif. Dikatakan demikian karena melalui media seni di samping masyarakat dapat menikmati hiburan sekalian dapat memetik nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ajaran agama.
Kegiatan-kegiatan nyata seperti ini dapat dilihat dalam pola-pola kepercayaan mitos dengan jenis-jenis ritus magis. Dalam hal ini seni diyakini mengandng kekuatan yang dapat menghubungkan kehendak manusia dengan penguasa-Nya, dan dengan roh roh nenek moyang, atau dapat dimanfaatkan untuk menyiasati perjalanan alam dan mempengaruhi kekuatan lain. Dengan demikian secara fungsional seni memiliki dimensi vertikal dan horizontal. Secara vertical adalah menyangkut hubungan seni dengan Sang Pencipta, sedangkan secara horizontal adalah menyangkut hubungan seni dengan masyarakat pendukung/penikmat seni dalam sentuhan pesan-pesan spiritual agama meliputi tattwa, susila dan upacara yang disampaikan dengan kemasan siwam, satyam sundaram. Sehingga para pendukung/penikmat seni dapat mencerna dengan gamblang, nilai-nilai yang positif, yang dapat dimanfaatkan menuju ke arah peningkatan moral.
Kegiatan seperti ini biasa dijumpai dalam berbagai aktivitas dan kreativitas seni terutama dalam seni pertunjukan, seperti seni pertopengan, yang dalam konteks pementasannya senantiasa mensinergikan nilai-nilai ajaran agama dengan seni sebagai potensi pembentukan budi pekerti.

C.      Peranan Musik Dayak dalam Kegiatan Upacara Balian Sebagai Salah Satu upacara Ritual Keagamaan Agama Hindu Kaharingan
Irama musik Dayak Ngaju dalam upacara balian yang dihasilkan oleh suara katambung dan lantunan doa oleh Basir  merupakan salah satu unsur budaya yang lahir dari proses intelektualitas dan dimaknai bersama oleh masyarakat pemiliknya. Ia merupakan produk agama maupun kepercayaan yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan yang turun temurun yang wariskan oleh nenek moyang umat yang beragama Hindu Kaharingan. Ia juga merupakan wadah kreativitas masyarakat dengan berpatokan pada nilai-nilai estetis yang di dalamnya terdapat sistem pemaknaan bersama. Hal ini karena irama musik Dayak Ngaju merupakan hasil dari proses sosial dan bukan proses perorangan. Artinya walau musik tersebut diciptakan oleh satu orang, namun dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat tingkah laku masyarakat secara kolektif terhadap musik tersebut, maka secara otomatis mengalami pemaknaan secara kolektif pula, sesuai dengan sifat masyarakat pendukungnya.
Kedekatan musik dengan kehidupan masyarakat Dayak Ngaju dapat dikatakan musik mempengaruhi seseorang untuk menginterpretasikan sesuatu yang dirasakan dan diyakini, atau sebagai wadah apresiatif yang berhubungan dengan kehidupan. Ia merupakan pengungkapan simbol, nilai, dan fungsi, sehingga ketiga unsur tersebut dapat menunjang keberadaan musik dan memberikan makna khusus bagi kehidupan masyarakat.
Irama musik Dayak Ngaju dipandang erat kaitannya dengan konteks aktivitas budaya yang dilaksanakan.. Ia merupakan realisasi sebuah konsep perilaku dan pemikiran masyarakat sesuai dengan adat dan tradisi yang berlaku, sehingga segala yang terkandung di dalamnya merupakan transpormasi nilai kehidupan masyarakat pemiliknya.
Irama musik Dayak Ngaju dibagi menjadi dua bagian, yaitu musik yang berhubungan dengan keduniawian atau musik profan, seperti pada saat upaca balian, dan musik yang berhubungan dengan kepercayaan atau agama yang sering disebut dengan musik ritual. Perbedaannya terletak pada pola tabuhan dan sebagai instrumen utama, maksudnya untuk mengetahui jenis-jenis musik tersebut dapat didengarkan melalui bunyi permainan..
Irama musik secara keseluruhan terbagi menjadi delapan bagian, yaitu: (1) Irama Musik Bagu; (2) Irama Musik Bawakng; (3) Irama Musik Jubata; (4) Irama Musik Panyinggon; (5) Irama Musik Sipanyakng Kuku; (6) Irama Musik Ngaranto; (7) Irama musik Dendo; dan (8) Irama musik Totokng. Seluruh tabuhan itu digunakan untuk iringan tari dan dalam ansambel kesenian Jonggan atau salah satu kesenian musik tradisional Dayak Kanayatn. Keseluruhan musik tersebut dipercaya lahir dari tradisi perdukunan dan dianggap mempunyai kekuatan magis, sehingga selalu digunakan dalam upacara Balian.
Pengertian irama bukan seperti pengertiannya dalam musik barat, yaitu sebagai alunan nada-nada yang membentuk satu bagian utuh atau lebih dari sebuah musik. Pengertian irama bagi masyarakat Dayak Kanayatn sama dengan motif tabuhan yang dimainkan oleh instrumen Dau, karena perbedaan irama satu dengan lainnya terletak dari tabuhan . Disamping itu masyarakat Dayak Ngaju tidak mempunyai penamaan khusus mengenai irama atau motif tabuhan, dimungkinkan mereka mengambil istilah dalam musik barat, dimana pengertian irama sama dengan lagu. Pengertian lagu di sini bukan seperti pengertian bentuk nyanyian utuh, melainkan irama-irama musik atau motif tabuhan yang dimainkan. Misalnya pada saat mereka hendak memainkan irama pada upacara balian, maka mereka sering menyebutnya dengan lagu pada saat balian. Dari sini dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan irama sama dengan lagu atau motif tabuhan Dau menurut masyarakat Dayak Ngaju.
Kebanyakan panjang motif musik Dayak Ngaju terdiri dari satu birama, namun ada pula yang mengisi penuh dua atau beberapa ruang birama. Disamping itu antara motif satu dengan motif lainnya terdapat banyak kesamaan, terutama motif-motif tabuhan dalam satu rumpun. Hal ini disebabkan adanya variasi pola tabuhan, seperti pembalikan, penyempitan, serta pelebaran pola ritme dan pola melodi. Misalnya irama musik Balian yang mempunyai kesamaan pola ritme tabuhan
Perkembangan teknologi dan masuknya kesenian modern (populer) menyebabkan masyarakat Dayak mulai meninggalkan budaya musik tradisi secara perlahan. Fenomena ini dapat dilihat dengan merebaknya musik-musik pop yang banyak digemari anak muda, dibanding kesenian tradisi yang mereka miliki. Selain itu kelangkaan dokumentasi terjadi karena belum terdapat data tertulis tentang irama musik tersebut, kecuali musik tertentu dalam konteks upacara tertentu pula, sehingga menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap musik tersebut. Meskipun irama musik Dayak Ngaju masih digunakan dalam beberapa upacara dan hiburan, namun masyarakat tidak mengerti arti penting yang terkandung di dalamnya. Padahal keberadaan musik tersebut sebagai dasar tradisi musikal Dayak Ngaju sangat penting diketahui dan dipelajari untuk penunjang perkembangan budaya dan masyarakat pemiliknya.
Makna eksistensi irama musik Dayak Ngaju mengarahkan pemahaman masyarakat bahwa musik tersebut mengandung nilai falsafah dan makna simbolis kehidupan masyarakat dan juga berperan sebagai sarana komunikasi antara manusia dengan Ranying Hatalla melalu perantara Basir. Hal ini karena irama musik Dayak Ngaju mengandung nilai-nilai luhur sebagai perwujudan realitas budaya. Segala ciri khas kehidupan masyarakat tergambar di dalamnya, selanjutnya musik itu mewakili alam pikiran masyarakat mengenai konsep-konsep religi, adat, dan tingkah laku untuk dihayati dan dipelajari sebagai pedoman kehidupan mereka. Ia merupakan pengejawantahan nilai adat dan tradisi, oleh karena itu ia dapat dikatakan sebagai identitas budaya lokal.
Seni musik dalam upacara balian yang menggunakan alat musik yang disebut dengan katambung atau dalam bahasa Sangiang disebut dengan sambang bulau. Alat musik ini adalah alat musik yang mempunyai nilai kesakralan karena alat musik ini selalu digunakan dalam setiap upacara keagamaan agama Hindu Kaharingan.
Jadi seni musik bagi agama Hindu Kaharingan pada upacara Balian mempunyai peranan yang sangat penting karena dengan media seni tersebut hubungan antara manusia dengan Tuhan bisa dilakukan.





















BAB III
PENUTUP


A.      Kesimpulan
Dari beberapa uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
-          Seni musik adalah cetusan ekspresi perasaan atau pikiran yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bunyi.
-          Pada Kaliyuga ini, dikatakan bahwa menyanyikan dan memuji kemuliaan nama suci Tuhan adalah sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai kesempurnaan
-          Makna eksistensi irama musik Dayak Ngaju mengarahkan pemahaman masyarakat bahwa musik tersebut mengandung nilai falsafah dan makna simbolis kehidupan masyarakat dan juga berperan sebagai sarana komunikasi antara manusia dengan Ranying Hatalla melalu perantara Basir.

B.       Saran
Hendaknya kita selalu mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi kita agar kita mampu dengan mudah mengarungi kehidupan di dunia ini.









DAFTAR PUSTAKA



Alan P. Meriam, “The Anthropology of Music” seperti dikutip I Komang Sudirga dalam bukunya Cakepung: Ansambel Vokal Bali (Yogyakarta: Kalika Press, 2005).
A.R Redcliffe Brown, Struktur dan Fungsi dalam Masyarakat Primitif (Kuala Lumpur: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, 1980), p. 210.
A.R. Redcliffe Brown, “Struktur dan Fungsi dalam Masyarakat Primitif”, seperti yang dikutip I Komang Sudirga, op.cit., p. 128.
Bambang Marhijanto, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Populer (Surabaya: Bintang Timur, 1995),
I Wayan Senen, “Aspek Ritual Musik Nusantara”, makalah yang diajukan dalam rangka peringatan Lustrum II ISI Yogyakarta, 23 Juli 1994.

Edy Sedyawati, Pertumbuhan Seni Pertunjukan (Jakarta: Sinar Harapan, 1981),
Lahajir, Etnoekologi Perladangan Orang Dayak Tunjung Linggang (Yogyakarta: Galang Press, 2001),
Mulyadi, et.al., Upacara Tradisional Sebagai Kegiatan Sosialisasi Daerah Istimewa Yogyakarta (Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DIY, 1984),
Regina, Mantra in Baliatn in The Dayak Society (Malang: IKIP Malang, Tesis S-2, 1997),





a

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar